Pages - Menu

Senin, 01 Oktober 2012

Tidak Hilang Sebuah Nama

Judul Buku              : Tidak Hilang Sebuah 
Nama Pengarang : Galang Lufityanto 
Penerbit                 : PT Era Adicitra Intermedia 
Tahun Terbit           : 2002
Jumlah Halaman  : XIII + 117


Di malam hari yang gelap disertai hujan deras, seorang gadis memandangi hujan di balik jendela kamar apartemennya yang terletak di gang di samping Albert Street. Hujan yang tiada henti yang membasahi bumi dan membuat hitamnya aspal menjadi semakin hitam. Rintik air hujan menimpa  tenda plastic café di pinggir jalan. Satu dua orang yang duduk di sana tanpa sadar terbawa suasana. Mendung Melbourne menularkan mendung di wajah mereka.Angin malam bertiup kencang dari ujung gang kecil hingga puncak gedung bertingkat menendang kaleng menuman kosong hingga menggelinding di sepanjang jalan yang menimbulkansuara yang membuat orang-orang membayangkan sesuatau yang benar-benar buruk tengah terjadi di malam yang sepi. Seorang gelandangan mencoba menghindari dari serangan hujan. Di belakang Restoran China angin malam membuat tulang-tulang menyelisip dan membuat orang lanjut usia mengeluh.Bila malam hari perempatan Albert Street ramai dilewati kendaraan banyak orang yang mengunjungi River God Fountain. Tak peduli dinginnya udara hari itu dan mereka tampak lucu menggembungkan seperti bola footy dalam balutan jaket tebal mereka.  Pukul setengah sembilan malam yang ditunggu belum datang. Tiga puluh menit setelah menutup tirai jendela , gadis itu pun kemudian duduk dan tangannya meremas-remas kulit sofa, rasa sedih yang terus menghantuinya.Si gadis beranjak dari kursi, melintasi ruang tamu yang melewati vas bunga dan deloin setengah kayu di samping pintu. Sepeuluh menit menjelang jam sepuluh tepat. Orang yang ditunggunya telah sampai, gadis itu tersenyum kecut seperti novel karangan Jackie Callins. Gadis itu dilepaskan beban punggungnya pada sandaran sofa yang empuk dan tubuhnya seperti melesak di dalamnya.Setelah sampai di depan apartemennya, wanita itu turun dari mobil. “Terimakasih”. Ucap wanita itu malu-malu sambil mencari pandangan kepada laki-laki itu dan mukanya merah ketika ia tahu lelaki itu juga memperhatikannya. Dengan perasaan yang berbunga-bunga waita itu menyusuri koridor bangunan apartemennya. Disapa semua orang yang ditemuinya. Ia membuat orang yang hendak bersipa tidur menjadi binggung melihat tingkah keanehan wanita itu. Ia menaiki tangga kayu yang sudah tua yang berderak sebagai alunan music yang mengiringi jantungnya yang tengah menari kegiarangan. Beberapa saatb kemudian ia tiba di pintu apartemennya. Ia langsung membuka pintu dan langsung berkata , “ Aku pulang”. Wanita itu ceria kemudian mengeluarkan barang yang ada di tas kertasnya. Ia membeli banyak barang mulai dari makanan kering. Majalah Dolly hingga bunga dan delion yang masih segar. Ia bercerita  tentang lelaki tampan itu dengan semangat. Dan wanita buruk rupa itutidak menjawab dan meresponnya. Tak lama kemudianwanita itu menjerit kesakitan. Serangan kedua tangan mengenai wajah bagian kanan. Si Gadis itu menekan pisau seperti menyentuh tulang pipinya dan wanita itu tak sadarkan diri Castor dan pollu-pollu adalah anak kembar yang terkenal dalam mitologi Yunani. Mereka sering disebut Dios Curl walaupun mereka dikatakan sebagai anak Tyndareus, Raja Sparta. Namun orang percaya bahwa hanya Castor saja  yang betul-betul putra Tyndareus. Sedangkan ayah Poluu-pollu yang sebenarnya adalah Zeus, raja para dewa yang menguasai angin dan gelombang. Castor dapat meninggal dunia sedangkan Pollu-pollu yang merupakan putra dewa dan castor terbunuh dalam suatu pertempuran Pollu-pollu merasa kehilangan
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar